Laman

Jumat, 16 Juli 2010

SEMANGAT PROFETIK SASTRA SUFI DAN JEJAKNYA DALAM SASTRA MODERN (1) Jalaluddin Rumi (1207 - 1273) SEMANGAT PROFETIK SASTRA SUFI DAN JEJAKNYA DALAM SAST

Jalaluddin Rumi (1207 - 1273)

Oleh
Abdul Hadi W.M.
Segi penting yang kerap ditekankan oleh para ahli dan pengamat yang tajam dalam membicarakan relevansi sastra keagamaan yang mendalam, termasuk sastra Sufi, ialah segi profetiknya. Segi ini, yang akan saya sebut sebagai ‘semangat profetik’ apabila diteliti memang penting untuk dikaji. Ia merupakan segi yang sentral, pusat bertemunya dimensi sosial dan transendental di dalam penciptaan karya sastra. Dimensi sosial menunjuk pada kehidupan kemanusiaan kita yang bersifat profan, dan dimensi transendental menunjuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana. Dimensi yang kedua ini memberikan kedalaman pada suatu karya, menopangnya dengan nilai-nilai kerohanian, membuat suatu karya seni bersifat vertikal atau meninggi.

Sesungguhnya cita-cita semua sastra keagamaan memang begitu, seperti hakiki ajaran agama itu sendiri, yaitu menyatukan dimensi sosial dan transendental. Oleh karena itu, ketika Kuntowijoyo membicarakan perlunya menegakkan kembali ‘etika profetik’ dalam Temu Budaya 1986 di TIM, yaitu etika yang selain berakar di bumi juga berakar di langit, dia juga menunjuk pentingnya sastra profetik dikaji. Pentingnya sastra profetik, dan relevansinya bisa dilihat pada semakin anthusiasnya orang dan pemikir dewasa ini membicarakan dan mengulas karya-karya para penyair dan sastrawan profetik seperti Goethe, Dostoyevski, Jalaluddin Rumi, Mohammad Iqbal, T. S. Eliot, Frederich Hoelderlin dan lain-lain. Dari karya karya mereka, yang di antaranya telah ditulis ratusan tahun yang lalu, telah ternyata, bahwa tersimpul pesan profetik dan kerohanian yang sangat diperlukan oleh banyak manusia modern.
Tidak saja di lapangan sastra atau estetika karya-karya yang profetik bisa muncul sebagai suatu alternatif, tapi juga di bidang filsafat, pemikiran sosial keagamaan dan wawasan budaya. Di lapangan filsafat, sebagaimana diulas secara panjang lebar oleh Roger Garaudy dalam dua buah bukunya Janji-janji Islam dan Mencari Agama Abad Duapuluh, ia hadir untuk mempertanyakan kembali keberadaan filsafat analitik dan rasionalisme atau historis materialisme, yang sedang mengalami jalan buntu oleh karena dasar-dasar epistemologisnya yang meragukan, serta ekses-eksesnya yang mengasingkan manusia dari Tuhan dan dirinya sendiri. Malahan tonggak-tonggak utama dari karya-karya profetik mempertanyakan kembali hubungan politik dengan moral dan agama, yang telah retak sejak modernisme dicanangkan, seperti kita lihat pada karya-karya Jalaluddin Rumi, Goethe, Dostoyevski, TS. Eliot dan Mohammad Iqbal.
Itulah sebabnya dengan anthusias Mohammad Iqbal kembali mengkaji karya-karya Rumi dan Goethe, dan dari pengkajian itu dia banyak menimba gagasan bagi penciptaan karya-karyanya yang profetik. Sesungguhnya, keadaan zaman dan tantangan sejarah pulalah yang membuat Iqbal demikian anthusias mengemukakan gagasan sastra profetik yang bercorak keagamaan, dengan menempatkan intuisi intelektual di tempat utama dalam memperoleh pengetahuan langsung atau pandangan yang visioner.
Tantangan tersebut terutama datang dari materialisme dan rasionalisme helenistik.Segi penting lain dari sastra profetik itu ialah tolok ukurnya yang hakiki, seperti dikatakan Ali Syari’ati, yaitu sebagai sumber penemuan jati diri manusia dan penyebab mekarnya kemungkinan-kemungkinan transenden. Sebab itu, ia tidak semata mengacu ke bumi, melainkan serentak dengan itu membawa kita ke langit melalui lubuk hati terdalam insan, oleh karena di dalam hati kita memang ada jendela untuk melihat Tuhan, seperti ayat suci menyatakan. Atau, untuk meminjam kata-kata Amir Hamzah dalam sajaknya “Padamu Jua”:
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai, pulang perlahan
Sabar setia selalu
Amir Hamzah dalam sajaknya itu telah menyampaikan berita profetik yang penting. Mungkinkah manusia menemukan dirinya tanpa terlebih dahulu menemukan Tuhannya, pencipta yang menjadi sumber keberadaannya? “Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Q.S. 59:19) Di sinilah pangkal kekusutan filsafat-filsafat moderen, yang begitu anthusias mengajak manusia kembali kepada dirinya, namun justru manusia kian dijauhkan dari dirinya, atau tepatnya jati dirinya, sehingga problem keterasingan manusia modern dari dirinya juga menjadi tanggung jawabnya. Bagaimana mungkin manusia mengenal jati dirinya tanpa manusia itu memiliki kesadaran semesta dan kesadaran akan asal usul kerohaniannya?
Adanya berita profetik dalam suatu karya sastra itulah, kata Roger Garaudy, yang membuat sastra bisa memberikan alternatif pada filsafat analitik dan materialistik. Dramawan Prancis, Eugene Ionesco, telah mengeritik seni dan sastra modern seperti berkembang di Barat, dan kemudian ditiru, kadang tanpa sikap kritis di Timur. Menurut Ionesco, dalam esei yang berjudul “Facing Inferno” (Encounter, Februari 1972), seni modern telah kehilangan perspektif metafisik dan spiritual oleh karena kelewat humanistik, psikologis dan sekular. Dengan begitu penikmatnya hanya diberi cakrawala atau batas pandangan sempit, yaitu dunia yang ini semata-mata. Ia mengajar manusia takluk pada materi dan senang diperbudak kekuasaan dunia. Jauh sebelumnya, penyair Inggris yang pernah meraih Hadiah Nobel, T. S. Eliot telah mengecam kecenderungan sekuler kebudayaan dan sastra Barat. Eliot berpendapat bahwa kebudayaan tidak akan bisa mengalami masa cerah tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan.
T. S. Eliot memiliki gagasan sastra profetik, yang membuat karyanya The Wasteland menjadi salah satu sumber inspirasi bagi gerakan-gerakan sastra moderen di berbagai negeri, terutama di Mesir dan Jepang setelah Perang Dunia II. Seperti Eliot di Barat, penyair Sinkichi Takahashi di Jepang berdiri kokoh di tengah gerakan sastra non-religius, memaklumkan perlunya penyair modern kembali ke nilai-nilai spiritual dan keagamaan.
Dalam Konperensi Penyair Asia II di Seoul, Korea, (September 1986) penyair Jepang Akiya Yutaka menegaskan hal yang serupa. Kata Akiya Yutaka, doa dan cinta serta sembahyang sangat penting dalam penciptaan puisi. Penyair modern, katanya, mempunyai tugas yang amat berat, namun harus dipikulnya, yaitu memberikan pencerahan dan ikut menyeimbangkan dunia yang berat sebelah pada kehidupan materialistik, dengan nilai-nilai kerohanian. Suara Akiya Yutaka ini adalah suara para penyair profetik dan penyair Sufi seperti Rumi, `Attar, Ibn Sina, Goethe, Hoelderlin, Walt Whitman, Emerson, Tagore, Rilke, Mohammad Iqbal, Hamzah Fansuri, Khalil Gibran, Saleh Abdul Sabur, Ali Ahmad Said dan lain-lain. Suara semacam itulah yang telah melahirkan damba untuk mengembalikan semangat profetik dalam sastra, oleh karena hanya dengan damba dan semangat semacam itulah manusia biasa menemukan kembali cahaya dan dimensi kedalaman yang hilang. Kata Danarto, “Lebih lima puluh tahun lamanya sejak peralihan abad ini dunia kita dilanda perang yang mengerikan dan sia-sia. Yang kita butuhkan sekarang adalah Tuhan, sehingga pencarian terbaik adalah berhubungan langsung dengan Tuhan”. Pada bagian akhir dramanya “Dalam Bayangan Tuhan”, Arifin C. Noer menurunkan nyanyian sekelompok orang yang tak berdaya ditindas tirani kemiskinan dan kekuasaan, orang-orang yang sekarat dan tersumpal mulutnya, tak lagi memiliki kemerdekaan:
Biarkan Tuhan bicara
Dengarkan Tuhan bicara
Awan membentuk barisan
Angin memenuhi ruangan
Hujan memerintah lautan
Biarkan Tuhan bicara
Dengarkan Tuhan bicara
Biarkan Tuhan bicara
Dengarkan Tuhan bicara
Gunung bergerak perlahan
Hutan meranggas kerontang
Sungai mampat di hulu dan muara
Biarkan Tuhan bicara
Dengarkan Tuhan bicara
Biarkan Tuhan bicara
Dengarkan Tuhan bicara
Gunung bergerak perlahan
Hutan meranggas kerontang
Sungai memapat di hulu dan muara
Biarkan Tuhan bicara
Dengarkan Tuhan bicara
Begitu bersahaja nyanyian ini, namun mengandung kekhusyukan dan mampu melahirkan pencerahan batin. Darinya kita mendengar berita profetik dan pesan pencerahan. Drama Arifin C. Noer ini melukiskan proses dehumanisasi dan demoralisasi dalam kehidupan modern, tema-tema yang disukainya sejak lakon-lakonnya yang awal seperti, “Mega-mega” dan “Kapai-kapai”. Mengiringi nyanyian sekelompok manusia ini, terdengar pembacaan ayat suci melatarinya, sebelum layar ditutup sebagai tanda lakon bagian pertama usai.
Penyair Palestina Ali Ahmad Said berkata: “Bumi kita sekarang adalah bumi pertentangan-pertentangan. Kita menganjurkan kemerdekaan, akan tetapi tidak melaksanakannya. Kita melepaskan diri dari perbudakan lahir untuk jatuh kembali pada perbudakan jiwa dan batin. Bumi kita adalah bumi ketakutan dan kericuhan, tapi bersamaan dengan itu, kita melihat alamat api. Karena itu hidup merupakan bagian dari pengembaraan rohani dalam rangka membina kembali sejarah manusia dan kejayaannya”.
Danarto, Arifin C. Noer dan Ali Ahmad Said, tiga pengarang Muslim yang terkemuka, pada dasarnya telah mengatakan kepada kita pentingnya mendudukkan kembali ‘wahyu ilahi’ di tengah peradaban yang dibentuk oleh materialisme, rasionalisme, positivisme dan semacamnya. Lebih satu abad yang lalu, penyair Jerman Hoelderlin telah berkata:
Yang paling dekat adalah Tuhan
Namun sulit kita pahami
Bilamana bahaya muncul
Akan bertambah pula yang akan menyelamatkannya
(dalam “Patmos”)
Bait puisi Hoelderlin yang dijadikan bahan acuan pokok oleh filosof Martin Heidegger dalam pembicaraan filsafatnya, yang mengecam peradaban modern dengan tajam itu, mengingatkan kita pada apa yang telah difirmankan dalam al-Qur’an, bahwa Tuhan itu lebih dekat pada manusia dibanding pembuluh darah manusia sendiri. Untuk menyampaikan berita profetik pulalah penyair kontemporer Korea Selatan, Cho Byun-hwa menulis dalam sajaknya “Pohon Musim Dingin”:
Seperti agama
Pohon musim dingin
Menjulang ke langit
Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri pun menulis dalam sajaknya “Walau” berita profetik, yang sempat didengar oleh manusia modern di tengah kebuntuan dan kehidupan jiwanya yang koyak-moyak:
walau penyair besar
takkan sampai sebatas Allah
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir
jiwa membubung dalam baris sajak
Tujuh puncak membilang-bilang
nyeri hari mengucap-ucap
di butir pasir kutulis rindu-rindu
walau huruf habislah sudah
alifbataku belum sebatas Allah
Kurang lebih setengah abad yang lalu, penyair Lebanon Khalil Gibran, yang menimba ilham buat sumber penulisannya dari para penyair Sufi, menulis:
Kusua rahasia mimpimu di ladang-ladang
Kujumpa keagunganmu di lembah-lembah
Kutemukan kehendakmu dalam batu-batuan
Dan diam kekalmu yang dalam dan rahasiamu di gua-gua
Kaulah keabadian dan bibirnya
Senar gitar abad-abad dan jari jemarinya
Gagasan tentang hidup dan pelambang-pelambangnya
Penyair Jepang, Tamura Ryuichi, mendengar berita gembira itu dengan telinga batinnya dan menyampaikan berita profetik itu dalam sajaknya ‘Tiga Suara’:
Sebuah suara datang dari jauh
dari seberang ufuk nun begitu jauh
lebih lembut dari segala bisikan
lebih nyaring dari jerit apa pun
lintas lautan-lautan dalam kata
lebih menukik ke dalam dibanding sejarah
dibanding tujuh mil kedalaman samudra Emden
lewat lautan yang hilang, hanya penyair bisa mendengar
Mencabik udara beku bumi
menenggelamkan armada paling berani
memerintah raja-raja, kota-kota indera kita
merecai pelaut-pelaut kita yang sudah mati dan kebosanan kita
suara itu datang dari seberang ufuk nun begitu jauh
“Suara itu,” kata Ryuichi selanjutnya, “datang lewat waktu satu-satunya, waktu yang merangkum semua waktu.” Pesan sajak ini senada dengan pesan sajak Ali Ahmad Said, yang menyatakan bahwa dia membawa neraka dalam dirinya dan memanggulnya, namun dalam kekacauan itu dia masih melihat adanya cahaya yang mesti dibangkitkan dengan perjuangan, ketabahan dan kekuatan rohani.

Jumat, 09 Juli 2010

Kuntowijoyo

Prelude: Kuntowijoyo pengarang yang buku karyanya jadi bahan skripsiku ini belum pernah kutemui atau ku ajak dialog, padahal seharusnya aku berterima kasih padanya atas karyanya yang memberiku inspirasi sehingga kelar kuliah S1ku. Dalam rangka berterima kasih, tulisan ini disusun. Semoga Oom Kunto tetap aktif berkarya
Prof Dr Kuntowijoyo dilahirkan di Sorobayan, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943 (berarti tahun ini genap 60 tahun). Namun, meski dilahirkan di
Yogyakarta
, masa kecil Kuntowijoyo lebih banyak dilewatinya di Klaten dan Solo. Di Klaten Kuntowijoyo tinggal di sebuah desa bernama Ngawonggo, di wilayah Kecamatan Ceper.
Pertengahan 1950-an, Ngawonggo hanyalah sebuah desa sunyi. Di kesunyian desa itu jarang ada orang yang tahu bahwa ada dua sastrawan nasional yang secara bersahaja mengajari anak-anak kecil berdeklamasi dan mendongeng, di sebuah surau sederhana. Dua sastrawan itu adalah M Saribi Arifin (salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan) dan M Yusmanam. Barangkali M Saribi Arifin dan M Yusmanam juga belum tahu, bahwa dari antara murid mengaji yang diajarinya berdeklamasi dan mendongeng itu, kelak muncul seorang sastrawan dan sejarawan yang cukup disegani. Murid mengaji itu adalah Kuntowijoyo.
Di luar kegiatan belajar mengaji dan deklamasi, di desa kecil itu Kuntowijoyo kecil juga gemar menyimak siaran radio RRI Surakarta yang menggelar siaran sastra, diasuh dua penyair Mansur Samin dan Budiman S Hartojo.
Sementara itu, pada siang hari Kuntowijoyo sering menyempatkan diri pergi ke kota kecamatan, memasuki gedung perpustakaan (konon milik Masyumi). Di situlah Kuntowijoyo (siswa madrasah ibtidaiyah dan SRN) melahap kisah-kisah Karl May, pengarang cerita-cerita petualangan di negeri Balkan dan pedalaman suku Indian. Pada usia SMP ia membaca karya-karya Nugroho Notosusanto, Sitor Situmorang, dan karya-karya yang dimuat di majalah Kisah.
Masa SR-SMP dijalaninya dengan berbagai ketertarikan terhadap dunia bacaan dan sastra, meski Kuntowijoyo hidup di sebuah desa. Waktu itu ia tinggal bersama kakeknya yang menjadi demang (lurah) di Ngawonggo. Setamat SMP, 1959, ia mengikuti salah seorang mbah cilik-nya, seorang pedagang batik, hidup di Solo. Mbah cilik ini memiliki sebuah almari yang menyimpan banyak buku sastra dan ensiklopedi. Di masa SMA itulah Kuntowijoyo melahap karya-karya Charles Dickens dan Anton Chekov. Bermula dari usia SMP berlanjut ke SMA, ia menulis cerita dan sinopsis dengan tulisan tangan.
Berkembang di Yogya
AYAH KUNTOWIJOYO adalah seorang seniman pedalangan dan seni macapat, sementara eyang buyut-nya seorang khattat, penulis mushaf Al Quran dengan tangan. Bisa jadi darah seni Kuntowijoyo mengalir dari mereka. Darah seni, sejumlah pengalaman, dan bacaan masa kecil itulah yang mengantarkan Kuntowijoyo ke jalur penulisan sastra. Tahun 1964, ketika menjadi mahasiswa sejarah di Fakultas Sastra UGM (masuk 1962), ia menulis novel pertamanya, “Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari” dan dimuat di Harian Djihad (1966).
Di kampus UGM itulah bakat sastranya lebih terasa. Bersama beberapa temannya ia mendirikan LEKSI (Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam). Di kampus itu pula Kuntowijoyo menulis prosa dan drama. Dramanya yang berjudul “Sebuah Jembatan telah Dibangun” sempat dipanggungkan oleh LEKSI di Jakarta (1965) dengan sutradara A Bastari Asnin, dalam acara Musyawarah Besar Tani Indonesia. Namun, pemanggungan ini kemudian dihentikan panitia yang sebagian besar adalah orang-orang kiri. Selain LEKSI, Kuntowijoyo juga mendirikan Studi Group Mantika bersama M Dawam Raharjo, Sju’bah Asa, Chairul Umam, Ikranagara, Arifin C Noer, Abdul Hadi WM, dan Amri Yahya. Kelompok ini sempat menggelar pameran lukisan di Malioboro.
Karya-karyanya yang ditulis semasa mahasiswa, banyak mendapatkan hadiah dari berbagai lomba. Misal Hadiah Harapan dari Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (BPTNI) untuk drama “Rumput-Rumput Danau Bento” (1968), Hadiah Pertama Sayembara Menulis Cerpen di Majalah Sastra untuk cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (1968). Hadiah Sayembara Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta untuk drama “Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas” (1972), Hadiah Sayembara Mengarang Roman Panitia Tahun Buku Internasional untuk novel “Pasar” (1972), dan Hadiah Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta untuk drama “Topeng Kayu” (1973).
1969 Kuntowijoyo menjadi sarjana sastra Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM. Pada tahun itu juga, Kuntowijoyo menikahi Susilaningsih, gadis sarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dari pernikahan ini kemudian lahir dua anak, bernama Punang Amaripuja dan Alun Paradipta. Hingga kini mereka tetap tinggal di Yogya Utara.
Berkaitan dengan kariernya sebagai sejarawan dan dosen, tahun 1973 Kuntowijoyo mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di AS. Dia memperoleh gelar MA dari
University
of
Connecticut
(1974) dan PhD dari
Columbia
University
(1980). Sekembalinya ke Indonesia, ia lebih disibukkan dengan berbagai kegiatan akademik, diskusi, dan seminar. Praktis pada masa ini kegiatan bersastranya berkurang, dan ia sendiri mengakui bahwa untuk masa sekitar dua puluh tahun (1973-1993) dianggapnya sebagai masa “pensiun”. Ia bahkan tidak menghasilkan sebuah cerpen pun. Namun, justru pada masa inilah puisinya tercipta.
Musibah yang menimpanya pada 6 Januari 1992 (terserang penyakit meningo encephalitis) menyebabkan Kuntowijoyo harus rehat dari berbagai kegiatan, termasuk bersastra. Maha Besar Allah. Pada 1993 kesehatan Kuntowijoyo kembali pulih. Ia pun kembali berkarya lagi. Malah cerpen-cerpennya mengalir cukup deras.
Produktivitas Kuntowijoyo yang mencengangkan, padahal belum lama menjalani “ujian” berupa sakit, barangkali berkaitan dengan prinsip bersastra dan kebiasaan-kebiasaan masa lalunya. Kuntowijoyo menganggap, sastra adalah proses pengendapan pengalaman, dan sudah sejak 1962, bahkan jauh sebelum itu ketika masih SMP, ia terbiasa menulis catatan-catatan cerita dan sinopsis. Catatan-catatan dan pengalaman yang mengendap bertahun-tahun itulah yang kini secara sporadis menggoda Kuntowijoyo untuk menulis.

Dalam kegiatan sastra dan budayanya, berbagai penghargaan telah pula diraih. Berturut-turut : (1) Hadiah Seni dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1986); (2) Penghargaan Penulisan Sastra Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1994); (3) Penghargaan Kebudayaan ICMI (1995); (4) Cerpen Terbaik Kompas (1995, 1996, 1997) untuk cerpen “Laki-laki yang Kawin dengan Peri”, “Pistol Perdamaian”, dan “Anjing-anjing yang Menyerbu Kuburan”; (5) Asean Award on Cultural (1997); (6) Satya Lencana Kebudayaan RI (1997); (7) Mizan Award (1998); (8) Penghargaan Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999); (9) SEA Write Award (1999) dari Pemerintah Thailand.
Selama bergelut dengan penulisan sastra, dari tangan Kuntowijoyo lahir karya-karya dalam berbagai genre (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999: 16). Sebagai penyair ia telah menghasilkan tiga kumpulan sajak, yaitu Suluk Awang Uwung (1975), Isyarat (1976), dan Makrifat Daun Daun Makrifat (1995). Sebagai cerpenis ia menghasilkan kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1992), Hampir Sebuah Subversi (1999), fabel Mengusir Matahari (2000), dan beberapa cerpennya terpilih sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas yang kemudian diterbitkan oleh Kompas dalam Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1995), Pistol Perdamaian (1996), dan Anjing-anjing Menyerbu Kuburan (1997). Dalam bidang drama ia menghasilkan “Rumput-rumput Danau Bento” (1968), “Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas” (1972), dan Topeng Kayu (1973). Sebagai novelis ia telah menulis “Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari” (1966), Khotbah di Atas Bukit (1976), Pasar (1994), Impian Amerika (1998), dan Mantra Pejinak Ular (2000). Sebagai ilmuwan dan penganut Islam yang teguh, antara lain menghasilkan Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985) dan Paradigma Islam (1991).
Proses Kreatif
DI DALAM DIRI Kuntowijoyo mengalir (sekaligus) dua warna budaya, yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Kedua budaya itu masih sama-sama berlatarkan kultur kejawen, tetapi memiliki beberapa perbedaan. Budaya Yogyakarta bersifat serba seadanya-gagah-maskulin-aktif karena dilahirkan oleh seorang prajurit pemberontak (orang terusir); sedang budaya Surakarta lebih bersifat kenes-penuh-bunga-feminim-kontemplatif, karena lahir di tengah kemapanan dan kenyamanan. Kedua warna budaya itu tampaknya memberikan warna tersendiri dalam proses kreatif penulisan karya-karya Kuntowijoyo.
Kuntowijoyo terbiasa menjalani kehidupan yang dialektis, dan mencari sintesis atas berbagai perbedaan yang terjadi di sekelilingnya. Beberapa sikap dan pemikiran Kuntowijoyo, baik dalam bidang sejarah, keagamaan, maupun sastra menampakkan hal yang demikian.
Dalam sastra, misalnya, Kuntowijoyo memetakan setidaknya ada dua macam sastra yang saling bertentangan. Pertama, sastra universal-humanistik-emansipatoris-liberal. Kedua, sastra yang mementingkan hal relijius-transendental-spiritual. Melihat peta semacam ini, maka sastra yang dipilih dan dicita-citakan Kuntowijoyo adalah jenis sastra yang bisa menggabungkan keduanya, yaitu sastra (Islam) profetik. Sastra profetik adalah sastra yang sekaligus mengandung emansipasi (amar ma’ruf), liberasi (nahyi munkar), dan transendensi (iman bi Allah).
Emansipasi itu sesuai dengan semangat peradaban Barat yang percaya kepada the idea of progress, demokrasi, HAM, liberalisme, kebebasan, kemanusiaan, kapitalisme, dan selfishness; Liberasi sesuai dengan prinsip sosialisme (marxisme, komunisme, teori ketergantungan, teologi pembebasan); Transendensi adalah prinsip semua agama dan terutama filsafat perenial.

Sebagai terapannya, karya-karya sastra Kuntowijoyo adalah karya yang bergerak antara kutub imajinasi dan realitas/nilai. Hasil sintesisnya adalah realisme yang diperluas atau realitas puitik.
Meski kesadaran puitik Kuntowijoyo cukup tinggi, tetapi ia sendiri mengakui banyak kesulitan untuk produktif dalam menulis puisi. Mencipta puisi memerlukan energi yang cukup besar, karena puisi lebih bersifat representasional dan kental jika dibandingkan dengan prosa yang lebih diskursif. Karena itu, sastrawan pengagum Rabindranath Tagore, Dostoyevsky dan Anton Chekov ini lebih banyak mencecar pembaca dengan karya-karya prosa, terutama cerpen, dibanding puisi. Meskipun demikian, Kuntowijoyo memposisikan puisi lebih tinggi dibanding prosa.
Dasar-dasar kreativitas Kuntowijoyo adalah bahwa dia selalu menulis dengan intuisi, tanpa formula apa pun, tanpa resep apa pun. Diksi-diksi puitik dan cerita rekaan begitu saja keluar secara langsung, alamiah, dan sederhana. Itu sebabnya ia kurang percaya dengan teori sastra. Dalam prosa, cerita-cerita Kuntowijoyo selalu dimulai dengan gagasan yang sangat sederhana. Gagasan itu biasanya berangkat dari hal-hal semacam pengalaman “traumatik”, yang ditemuinya dan sudah diendapkannya selama bertahun-tahun, terkadang malah sudah sempat terlupakan. Gagasan itu muncul tiba-tiba dan menggoda untuk segera dituliskan.
Kuntowijoyo memang terbiasa menyimpan dan mengendapkan gagasan. Untuk menyiasati “organisasi” pengendapan gagasan yang selalu menumpuk itu, Kuntowijoyo terbiasa menulis sinopsis cerita yang ditulisnya dalam sebuah buku catatan: ia menamakannya “Catatan Kecil”. Kebiasaan itu dilakukannya sejak 1962. Pengendapan itu merupakan satu jalan agar cerita, yang pada saatnya layak dihadirkan akan hadir secara “matang”. “Matang” bagi Kuntowijoyo berarti semua unsur cerita menjadi lengkap, tetapi tetap terasa spontan, wajar, dan tanpa beban.
Untuk mematangkan karya, Kuntowijoyo menyodorkan konsep three in one, tiga unsur untuk melengkapi proses kreatif bersastra. Ketiganya adalah strukturisasi pengalaman, strukturisasi imajinasi, dan strukturisasi nilai (konsep ini disampaikan Kuntowijoyo ketika memberikan sambutan penerimaan Hadiah Sastra SEA Write Award 1999).
Pertama, sastra adalah strukturisasi pengalaman, baik itu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, pengalaman kolektif, maupun pengalaman hasil riset. Pengalaman yang menjadi bahan dasar karya sastra itu berserakan di mana-mana, tidak pernah utuh, dan selalu terpotong-potong. Pengaranglah yang bertugas menjadikan potongan-potongan itu menjadi sebuah struktur yang utuh dan bermakna.
Kedua, karya sastra adalah strukturisasi imajinasi. Bagi Kuntowijoyo, pengarang itu seperti tukang batu. Di hadapan tukang batu ada batu bata, semen, kayu-kayu, dan genteng yang harus dibuat menjadi sebuah rumah. Dengan sendirinya tukang batu itu mempunyai imajinasi tentang bentuk rumah. Demikian juga seorang pengarang, harus mempunyai imajinasi mengenai struktur narasi yang akan dibuatnya. Dengan imajinasi, pengarang melengkapi, mengubah, merangkai, merekat dan menyulap pengalaman menjadi sebuah kesatuan yang memiliki makna.
Ketiga, karya sastra adalah strukturisasi nilai. Nilai dapat berasal dari agama, filsafat, ilmu, kata-kata mutiara, kebiasaan sehari-hari, atau apa saja. Nilai-nilai itu diinternalisasikan ke dalam karya sastra. Namun, mesti diingat bahwa nilai-nilai yang diinternalisasikan ke dalam karya sastra ini hendaknya tidak membebani karya sastra itu sendiri sehingga pengarang melupakan struktur teks. Sebaliknya, pengarang harus menjadikan nilai itu sebagai nilai tambah karya sastra yang ditulisnya.

Apakah Ki Panji Kusmin Sebenarnya Adalah WS Rendra?

Senang sekali beberapa sahabat saya dari Kompasiana bisa ikut menemani saya membacakan puisi di acara ‘Mengenang WS Rendra’ Jumat malam 14 Agustus kemarin. Rumah Perubahan milik Rizal Ranmli yang biasa dipakai untuk acara diskusi politik , kegiatan seni sastra dan budaya tanpa sekat partai dan golongan apa pun, cukup penuh dikunjungi lebih dari 100 orang. Duduk di atas karpet sembari bersila dan menikmati kacang rebus, singkong dan ubi, suasana bagitu akrab dan santai. Saya sungguh menikmati suasana itu. Berkesenian, memang seharusnya tak ada batasan ideologi suku, bangsa, agama, maupun simpatisan partai mana pun.
Semakin malam, semakin seru. Seniman sastrawan Noorca Massardi berkisah tentang pengalamannya selama ini dengan almarhum. Juga Deddy Mizwar yang menggebu-gebu. Teguh Esa pengarang Ali Topan Anak Jalanan juga bertutur tentang Rendra. Lola yang cantik juga berpuisi dengan baik. Fadli Zon, tak saya sangka, begitu bagus membacakan puisi Rendra dengan gempita. Pada kesempatan itu, saya membacakan pula dua puisi Rendra yang sempat ia buat 31 tahun lalu untuk saya. Mantan Mensesneg Moerdiono bercerita pula kekaguman dan kedekatannnya dengan seniman hebat ini saat ia belum duduk di kursi kabinet sampai berkunjung sekian kali menengok di Rumah Sakit. Addie Massardi, menutup acara dengan puisi Rendra terakhir yang ia ciptakan di penghujung kematiannya. Haru memang.
Sebenarnya ada hal yang sungguh menarik tapi tidak begitu tertangkap oleh para hadirin. Setelah Rieke Diah Pitaloka membacakan puisi ‘Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta’, seorang dosen Sastra Indonesia, Ibnoe Wahyudi maju berbicara ke depan. Ia mengingatkan kita semua, ada persamaan yang betul-betul amat mirip antara tulisan cerpen ‘Langit Makin Mendung’ yang dibuat tahun 1968 oleh Ki Panji Kusmin, dengan puisi Rendra ‘Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta’ tahun 1969.
Memori saya kembali kepada kejadian penting yang pernah bikin heboh Indonesia. Puluhan tahun lalu HB Jassin, ‘paus’nya Sastra Indonesia sempat dipenjara. Penyebabnya adalah tulisan cerpen Langit Makin Mendung di Majalah Sastra yang dianggap sangat sara pada zaman itu. Dan di bawah pertanggunganjawabnya sebagai pemimpin redaksi, HB Jassin, ia diadili. Jassin didesak untuk menjelaskan siapa Ki Panji Kusmin sebenarnya, sang penulis Langit Makin Mendung yang bikin heboh dan menyulut amarah sebagian dari masyarakat. Tetap saja HB Jassin bungkam . Ia pun akhirnya rela masuk bui demi menjaga dan merahasiakan sumbernya.
Saya betul-betul baru tersadar, saat Ibnoe Wahyudi dengan kejeliannya, memaparkan bahwa sebagian dari rangkaian kata dalam Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta yang diciptakan Rendra dan dimuat di Selecta tahun 1969, dan cuplikan rentetan kata yang ada pada cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin tahun 1968 amat sangat mirip , bahkan sama. Saya pun kembali berkata-kata dalam hati…cerpen itu dibuat tahun 1968, sedangkan puisi Rendra tahun 1969. Jadi, bisa dibayangkan, apabila dugaan awal Ibnoe ( dan sekarang, kita semua ) benar, maka sampai meninggalnya Rendra tak pernah sempat terungkap siapa Ki Panji Kusmin sesungguhnya - yang menyebabkan HB Jassin rela dipenjara demi etika yang dipanggulnya………
Rasanya sudah saatnya kini para pengamat sastra membahas lagi puisi ‘Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta’ , juga tulisan cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin. Ini soal sejarah Sastra Indonesia. Sejarah untuk kita semua. Dan generasi jauh berikutnya.
Apakah Ki Panji Kusmin, sebenarnya adalah WS Rendra..???

Esensi dan Orientasi "Sastra Adiluhung"

Oleh Arif Hidayat


Derasnya arus modernisasi di Indonesia tidak hanya berdampak pada tatanan ekonomi dan politik saja. Modernisasi juga telah mengikis sendi-sendi sastra. Hal ini tampak dengan adanya gagasan mengenai "sastra adiluhung" dalam ranah kesuastraan Indonesia. Memang, pernyataan mengenai sastra adiluhung tidaklah se-populer istilah sastra sufi dan sastra profetik.
Dan, melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca meninjau ulang mengenai gagasan sastra adiluhung di Indonesia yang masih kontradiktif. Pasalnya, belum ada batasan yang jelas untuk memformulasikan apa itu sastra adiluhung. Tulisan ini tidak bermaskud untuk membuat dikotomi, tapi lebih tertuju pada ruang dan lingkup sastra adiluhung dalam khazanah kesusastraan Indonesia.
Selama ini, pandangan terhadap sastra adiluhung lebih dititikberatkan perhatiannya pada eksistensi karya sastra yang mampu bertahan terhadap zaman sehingga sampai sekarang masih dikenal oleh masyarakat, seperti Mahabarata dan Ramayana, Serat Wedhatama, dan Centhini di Indonesia. Akan tetapi, ada yang menyebut sastra adiluhung diorientasikan pada kandungan moralitas yang terepresentasi dalam karya sastra. Itulah kontradiksi mengenai sastra adiluhung yang sampai sekarang menjadi polemik. Padahal, apabila dipandang secara eksistensi dan kandungan moralitasnya banyak karya sastra yang lebih hebat daripada Mahabarata dan Ramayana Serat Wedhatama, dan Centhini di Indonesia.
Menurut saya, ada distingsi historis yang menyebabkan masyarakat beranggapan bahwa hakekat adiluhung tertuju pada moral(itas) dan norma zaman dahulu. Anggapan tersebut tidak salah, namun berdasarkan esensinya, adiluhung merupakan falsafah luhur dan mulia yang substansinya diturunkan dari budaya terdahulu ke masa sekarang.
Dalam buku buku Adiluhung tentang yang Suci dan Sejati (Ch'ing-chen ta-hsue) karya Wang Tai, yang diteliti oleh Sachiko Murata, mengungkapkan esensi adiluhung dalam konteks Cina. Buku tersebut ditulis oleh Wang Tai yang menyelaraskan dengan prinsip Konfusian, dan Tao, dengan ajaran Islam. Wang Tai dengan seksama membuat dialog ajaran tersebut dengan prinsip kebenaran yang dimiliki Islam. Dalam praktiknya, ada transformasi budaya dari prinsip Konfusian, dan Tao yang mengandung kearifan ke dalam nilai Islam pada masa Wang Tai.
Di Indonesia, kita sering melihat adanya asimilasi budaya dan adat istiadat dengan falsafah Islam. Hal ini terutama dipelopori Wali Songo di Indonesia dalam menyebarkan ajaran Islam. Hasil dakwah yang telah dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga misalnya, mereka berdua berdakwah melalui seni dan budaya dengan menggunakan wayang kulit sebagai medianya. Fonemena tersebut mengilustrasikan akan peristiwa adiluhung, sedangkan sastra adiluhung mengungkapkan fonemena asimilasi seperti itu.
Saya menganalogikan bahwa jika yang dikatakan sastra sufi yakni karya sastra yang mempersoalkan tauhid, dan sastra profetik mengungkap semangat kenabian, maka esensi sastra adiluhung tertuju kepada karya sastra yang membicarakan pelestarian budaya luhur dan mulia (kearifan).
Di sini dengan jelas ada perbedaan yang signifikan mengenai "sastra adiluhung" dan "karya sastra yang adiluhung". Mahabarata dan Ramayana Serat Wedhatama, dan Centhini di Indonesia secara esensinya termasuk karya sastra yang adiluhung karena karya tersebut dipertahankan eksistesinya sebagai karya yang mengandung moralitas tinggi.
Singkat kata, apa yang disebut sastra adiluhung lebih terletak pada bagaimana karya sastra tersebut mampu mengeksplorasi adanya sisi asimilasi budaya dengan kebudayaan sekarang. Dalam permasalahan ini, yang ditekankan mengenai nilai-nilai luhurnya (kearifan) sebagai falsafah hidup yang mampu membentuk keperibadian. Sampai di sini, tulisan ini telah mengantarkan kita tentang dasar sastra adiluhung.
Dengan kuatnya arus modernisasi, maka falsafah luhur dan mulia yang dipertahankan dari zaman dahulu hingga sekarang eksistensinya mulai memudar. Inilah yang sebenarnya secara garis besar mewadahi paradigma sastra adiluhung. Peran dan fungsi yang melatarbelakangi akan hal ini terdapat pada masa transisi budaya-dalam modernisasi ini.
Perlu adanya aksentuasi kearifan yang lebih eksploratif. Sudah semestinya kita sebagai manusia, menghargai budaya sebagai pembentuk moralitas dan keperibadian. Karena itu, sangatlah perlu meninjau ulang apa yang telah dicapai dalam budaya kita, pembentuk watak dan keperibadian secara sejarah, sebagai metode untuk mengoreksi perbuatan apa saja yang telah kita lakukan dalam beberapa waktu ini. Untuk itu, sastra adiluhung merupakan jawaban yang tepat.
Sastra adiluhung secara substantif mengilustrasikan dinamika sosial yang mengalir lewat sublimasi sastrawan. Sublimasi ini terjadi dari dua dimensi, yaitu yang ragawi dan rohani. Yang ragawi berdasarkan panca indra atas konstruks sosial yang abstrak, sedangkan yang rohani berdasarkan kepekaan perasaan mengenali gejala-gejala kehidupan.
Inilah peran sastra sebagai dunia yang dinamis, di mana orang mampu menyelaminya secara bebas dan berbagai variasi, maka sastra memiliki nilai yang beragam. Tidak heran apabila Jhon F. Kennedy mengatakan apabila politik bengkok, sastra yang meluruskan. Pendapat itu karena banyaknya nilai-nilai kemanusiaan dan pesan moral yang ditawarkan di dalam karya sastra. Adapun secara proses, karya sastra tersusun atas filosofi kehidupan yang menyatu dengan pengalaman empiris. Karenanya, ungkapan seperti "daun gugur dari tangkainya" adalah ilustrasi konkrit yang memiliki kandungan falsafah akan adanya sesuatu hal yang abstrak yaitu kematian.
Jadi, tidak ada salahnya untuk merenungi nilai-nilai luhur dan mulia sehingga kita tidak timbul-tenggelam menghadapi kuatnya arus modernisasi yang cenderung kapitalis. Adapun konsep adiluhung yang mewujud dalam karya sastra merupakan fonemena (realitas) dan dapat dijadikan studi lanjut yang komprehensif dan ilmiah.

Profetik: Kepaduan Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan

Sore tadi saya lewat ke seputaran toko gunung agung. Teringat dengan dunia
sastra, kucoba cari buku horizon yang selama ini kucari-cari. Alhamdulillaah,
masih ada beberapa ekslempar edisi Mei 2005 (Heran deh, udah tanggal 30 kok
masih ada yang mau beli kayak saya, hehe).

Yup, kubuka lembar demi lembar. Hampir seluruh halaman membahas sosok
Kuntowijoyo. Aku pun (dengan sedikit memaksakan diri) mencoba membaca dan
memahami dunia sastra kuntowijoyo ini.

Hal paling menarik dimata saya adalah tulisan sastra profetik. Konon ini adalah
perpaduan dari kemanusiaan dan ketuhanan. Sisi ketuhanan.yang banyak
diekspresikan beliau lewat puisi-puisi dalam buku Suluk awang Uwung, Isyarat,
Makrifat Daun daun makrifat. sisi kemanusiaan yang mengimbangi sisi ketuhanan
terlihat dalam cerpen-cerpen dan novel-novelnya.

Contoh sisi ketuhanan terlihat dalam sajak "isyarat" berikut:
----------

Angin gemuluh di hutan
Memukul ranting
Yang lama juga
Tak terhitung jumlahnya
Mobil di jalan
Dari ujung ke ujung
Aku ingin menekan tombol
Hingga lampu merah itu
Berhenti
Angin, mobil dan para pejalan
Pikirkanlah, ke mana engkau pergi
------

Dari puisi ini, terlihat Kuntowijoyo berusaha mengingatkan kita yang seringkali
terbelenggu oleh rutinitas duniawi, hingga lupa atau mungkin tak tahu lagi
kemana tujuan hidup sebenarnya.

Aku inign menekan tombol/ Hingga lampu merah itu/ berhenti

-> Seolah Kuntowijoyo ingin menghentikan rutinitas manusia dari kesibukannya
yang telah kehilangan makna hidup.

Angin, mobil dan para pejalan / Pikirkanlah ke mana engkau pergi.

-> Tentunya bukan arah kiri kanan atau lurus ke depan jalan, tapi hendak kemana
kita setelah datangnya kematian yang pasti akan datang.

Demikian pula dalam sajak dalam Suluk Awang Uwung
--------

Jantung berdetak
menggugurkan impian
dari balik sepi
merpati putih
hinggap di pucuk kabut
Ketahuilah:
Kau rindukan kekosongan
-------

Tampak Kuntowijoyo menggambarkan desakan hatinya atau qolbunya.

Jantung berdetak / menggugurkan impian

-> Detak jantung yang tak terhitung telah menggugurkan mimpi-mimpi kehidupan,
baik itu mimpi yang telah terwujud maupun yang masih harapan.

Dari balik sepi / merpati putih / hinggap di pucuk kabut
-> Ini agaknya sebuah metafor. Ketika sekian banyak mimpi hidup telah
terlewati, maka merpati putih (semacam jiwa yang ingin terbang mencari
kebebasan dari sangkar badannya) hinggap di pucuk kabut (mulai bertengger di
atas kabut, tak lagi tertutupi pandangannya, mulia bisa melihat keutuhan
dirinya, melihat jalan pencerahan di atas kabut kehidupannya).

Ketahuilah: / kau rindukan kekosongan
-> kekosongan yang dimaksud, bisa jadi hilangnya kabut dan pandangan2 yang
mengganggu yang menghalanginya menatap jalan pencerahan.

Keseimbangan nilai ketuhanan dan kemanusiaan beliau, nampak dalam salah satu
cerpennya dilarang mencintai bunga - bunga. Beberapa potongan dialognya:

"....Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk
pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, keremajaan, keindahan. Hidup
adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. Kita adalah dua tangkai
anggrek...".

-> Sisi ketuhanan tampak menonjol disini, penggambaran kehidupan yang serba
indah penuh cinta, yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi sufistik, bukan hanya
puisi melankolis cinta antara anak manusia.

"Menangis adalah cara yang sesat untuk meredakan kesengsaraan. Kenapa tidak
tersenyum, Cucu. Tersenyumlah. Bahkan sesaat sebelum orang membunuhmu.
Ketenangan jiwa dan keteguhan batin mengalahkan penderitaan, mengalahkan,
bahkan kematian".

-> Semangat dan ketegaran hidup nampak kental disini. Beliau juga mementingkan
bekerja, disamping berandai-andai dengan kenikmatan ruh kehidupan

"Engkau bukan iblis atau malaikat, Buyung. Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci
tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!".

-> Bekerja mengotori tangan, lalu membersihkannya, lalu mengotorinya dengan
kerja. Ya, seperti ajaran wudhu di setiap akan melakukan sholat. Setelah penat
bekerja, bersihkan jiwamu dengan sholat, lalu bekerjalah kembali. Dan
bertebaranlah di muka bumi, untuk mencari karunia Nya.

Ah, beliau memang mampu menyatukan nilai ketuhanan dengan kemanusiaan.

Sebagai penutup, ingin kupersembahkan sebuah sajak / puisi ini kembali.
:)

-----------
Sayap tak berkepak
Ucup al-Bandungi


pernahkah kau
terheran-heran
karena tiba-tiba sepasang sayap mengapit badanmu?

membawamu ke hembusan angin melambai
menikmati pemandangan di atas pegunungan
melambung hingga ke atas awan

hingga kadang ada yang sampai ke ujung langit
yang ternyata berisi kekosongan

kekosongan!
itulah yang ada di ujung kehampaan

seringkali kemudian -mereka- lupa
bahwa -mereka- pun punya kaki
selain sayap

kaki fungsinya untuk menjejak
seperti bumi tempat berpijak
maka manusia pun harusnya berjalan tegap
bukannya terbang dengan sayap

seperti kelahirannya dari saripati bumi
seperti kematiannya di liang bumi
manusia adalah makhluk bumi
karena ia memiliki jasad

maka keinginannya adalah bumi
kebutuhannya adalah bumi
ladangnya adalah bumi
kuburnya adalah bumi

sayap?
itu adalah pelipur lara
ketika bumi tak lagi mau berbagi

dan itulah yang harus dicari
carilah sendiri
(kecuali kau memiliki pengendali)





Sore tadi saya lewat ke seputaran toko gunung agung. Teringat dengan dunia
sastra, kucoba cari buku horizon yang selama ini kucari-cari. Alhamdulillaah,
masih ada beberapa ekslempar edisi Mei 2005 (Heran deh, udah tanggal 30 kok
masih ada yang mau beli kayak saya, hehe).

Yup, kubuka lembar demi lembar. Hampir seluruh halaman membahas sosok
Kuntowijoyo. Aku pun (dengan sedikit memaksakan diri) mencoba membaca dan
memahami dunia sastra kuntowijoyo ini.

Hal paling menarik dimata saya adalah tulisan sastra profetik. Konon ini adalah
perpaduan dari kemanusiaan dan ketuhanan. Sisi ketuhanan.yang banyak
diekspresikan beliau lewat puisi-puisi dalam buku Suluk awang Uwung, Isyarat,
Makrifat Daun daun makrifat. sisi kemanusiaan yang mengimbangi sisi ketuhanan
terlihat dalam cerpen-cerpen dan novel-novelnya.

Contoh sisi ketuhanan terlihat dalam sajak "isyarat" berikut:
----------

Angin gemuluh di hutan
Memukul ranting
Yang lama juga
Tak terhitung jumlahnya
Mobil di jalan
Dari ujung ke ujung
Aku ingin menekan tombol
Hingga lampu merah itu
Berhenti
Angin, mobil dan para pejalan
Pikirkanlah, ke mana engkau pergi
------

Dari puisi ini, terlihat Kuntowijoyo berusaha mengingatkan kita yang seringkali
terbelenggu oleh rutinitas duniawi, hingga lupa atau mungkin tak tahu lagi
kemana tujuan hidup sebenarnya.

Aku inign menekan tombol/ Hingga lampu merah itu/ berhenti

-> Seolah Kuntowijoyo ingin menghentikan rutinitas manusia dari kesibukannya
yang telah kehilangan makna hidup.

Angin, mobil dan para pejalan / Pikirkanlah ke mana engkau pergi.

-> Tentunya bukan arah kiri kanan atau lurus ke depan jalan, tapi hendak kemana
kita setelah datangnya kematian yang pasti akan datang.

Demikian pula dalam sajak dalam Suluk Awang Uwung
--------

Jantung berdetak
menggugurkan impian
dari balik sepi
merpati putih
hinggap di pucuk kabut
Ketahuilah:
Kau rindukan kekosongan
-------

Tampak Kuntowijoyo menggambarkan desakan hatinya atau qolbunya.

Jantung berdetak / menggugurkan impian

-> Detak jantung yang tak terhitung telah menggugurkan mimpi-mimpi kehidupan,
baik itu mimpi yang telah terwujud maupun yang masih harapan.

Dari balik sepi / merpati putih / hinggap di pucuk kabut
-> Ini agaknya sebuah metafor. Ketika sekian banyak mimpi hidup telah
terlewati, maka merpati putih (semacam jiwa yang ingin terbang mencari
kebebasan dari sangkar badannya) hinggap di pucuk kabut (mulai bertengger di
atas kabut, tak lagi tertutupi pandangannya, mulia bisa melihat keutuhan
dirinya, melihat jalan pencerahan di atas kabut kehidupannya).

Ketahuilah: / kau rindukan kekosongan
-> kekosongan yang dimaksud, bisa jadi hilangnya kabut dan pandangan2 yang
mengganggu yang menghalanginya menatap jalan pencerahan.

Keseimbangan nilai ketuhanan dan kemanusiaan beliau, nampak dalam salah satu
cerpennya dilarang mencintai bunga - bunga. Beberapa potongan dialognya:

"....Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk
pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, keremajaan, keindahan. Hidup
adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. Kita adalah dua tangkai
anggrek...".

-> Sisi ketuhanan tampak menonjol disini, penggambaran kehidupan yang serba
indah penuh cinta, yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi sufistik, bukan hanya
puisi melankolis cinta antara anak manusia.

"Menangis adalah cara yang sesat untuk meredakan kesengsaraan. Kenapa tidak
tersenyum, Cucu. Tersenyumlah. Bahkan sesaat sebelum orang membunuhmu.
Ketenangan jiwa dan keteguhan batin mengalahkan penderitaan, mengalahkan,
bahkan kematian".

-> Semangat dan ketegaran hidup nampak kental disini. Beliau juga mementingkan
bekerja, disamping berandai-andai dengan kenikmatan ruh kehidupan

"Engkau bukan iblis atau malaikat, Buyung. Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci
tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!".

-> Bekerja mengotori tangan, lalu membersihkannya, lalu mengotorinya dengan
kerja. Ya, seperti ajaran wudhu di setiap akan melakukan sholat. Setelah penat
bekerja, bersihkan jiwamu dengan sholat, lalu bekerjalah kembali. Dan
bertebaranlah di muka bumi, untuk mencari karunia Nya.

Ah, beliau memang mampu menyatukan nilai ketuhanan dengan kemanusiaan.

Sebagai penutup, ingin kupersembahkan sebuah sajak / puisi ini kembali.
:)

-----------
Sayap tak berkepak
Ucup al-Bandungi


pernahkah kau
terheran-heran
karena tiba-tiba sepasang sayap mengapit badanmu?

membawamu ke hembusan angin melambai
menikmati pemandangan di atas pegunungan
melambung hingga ke atas awan

hingga kadang ada yang sampai ke ujung langit
yang ternyata berisi kekosongan

kekosongan!
itulah yang ada di ujung kehampaan

seringkali kemudian -mereka- lupa
bahwa -mereka- pun punya kaki
selain sayap

kaki fungsinya untuk menjejak
seperti bumi tempat berpijak
maka manusia pun harusnya berjalan tegap
bukannya terbang dengan sayap

seperti kelahirannya dari saripati bumi
seperti kematiannya di liang bumi
manusia adalah makhluk bumi
karena ia memiliki jasad

maka keinginannya adalah bumi
kebutuhannya adalah bumi
ladangnya adalah bumi
kuburnya adalah bumi

sayap?
itu adalah pelipur lara
ketika bumi tak lagi mau berbagi

dan itulah yang harus dicari
carilah sendiri
(kecuali kau memiliki pengendali)

LANGIT MAKIN MENDUNG – cerpen paling kontroversi tulisan KIPANDJIKUSMIN kerana menghina agama

Aku pinjam dari seorang kawan sebuah buku secara yang fizikalnya kelihatan purba dan klasik sekali . Itu bukan masalah kerana buku sejenis inilah yang selalunya aku suka.

Buku Polemik ini hanyalah siri perbahasan terhadap cerpen paling kontroversi dalam dunia sastera di Indonesia dan tempiasnya jauh sampai ke Malaysia kerana dikatakan menghina agama .

Cerpen ini bertajuk Langit Makin Mendung sebenarnya termuat dalam majalah Sastra keluaran Augustus , 1968 .

Cerpen ini sebenarnya adalah satira pedas mengkritik Indenesia di zaman Soekarno . Itu tak menjadi kontroversi kerana ianya ditulis ketika di bawah Presiden Suharto.

Tetapi kelancangan imaginasinya pengarangnya yang mempersonafikasikan tuhan , mempersendakan rasul-rasul dan malaikat jibrail ,menjadikan cerpen ini jelmaan Devine Comedy tulisan Dante dalam bahasa melayu.

Kedjaksaan Tinggi Sumatera Utara di Medan telah mengharamkan pengedaran majalah Sastra keluaran Augustus , 1968 gara-gara cerpen ini.Diikuti protes pembela-pembela sastera.

Kipandjikusmin pengarang cerpen sebenarnya adalah nama samaran yang sampai sekarangpun tak diketahui siapa dia sebenarnya dan bila kes Langit Makin Mendung ini dibawa kepengadilan maka HB Jassin yang memilih cerpen inilah yang dipertanggung-jawabkan.

Beliau dipenjarakan 9 bulan kerana berkeras menyembunyikan indentiti sebenar Kipanjikusmin itu. Ada yang mengatakan HB JASSIN itu sendiri adalah Kipandjikusmin tetapi dinafikan disini.

Perbahasan dalam buku POLEMIK ini pula telah menggunakan pelbagai hujah dari pembela dan pendakwa. Pelbagai perbandingan telah dibuat.

Dari Malaysia pula menyamakan dengan puisi Sidang Ruh tulisan Kassim Ahmad .Dan yang paling kerap adalah sebuah lagi cerpen yang mengimaginasikan tuhan dan neraka bertajuk Robohnya Surau Kami tulisan A.A Navis.

Yang pada aku kedua-duanya taksetaraf untuk dibuat perbadingan dengan cerpen Langit Makin Mendung baik dari kecerdasan imaginatifnya, mahupun ketangkasan bahasanya apatah lagi kritikan, kelucuan dan isi ceritanya.

Ada yang merasakan Kipandjikusmin mampu menjadi penulis besar tetapi dia muncul terlalu awal di zaman Hollywood belum lagi menghasilkan Bruce Almighty dan Little Nicky.

LANGIT MAKIN MENDUNG

LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba (turun bawah) ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..

“Daulat, ya Tuhan.”

“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”

“Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”

“Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”

Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”

Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.

“Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”

“Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih.

“Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”

“Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.

“Bagaimana, ya Tuhan?”

“Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”

“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”

“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”

“Dan yang mati?”

“Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”

“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut.

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”

“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”

“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”

Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.

“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”

“Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom).

“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”

“Tidak bisa mereka disogok?”

“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”

“Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).

Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.

“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim.

“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.”

Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.

Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi.

“Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka scmua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”

“Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.

Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj.

Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.

Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” Nabi keheranan.

“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”

“Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira).

“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”

“Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!”

Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak.

Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.

Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.

“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”

“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?”

“Hampir sama.”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”

“90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar di surga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh. Gilakah mereka?”

“Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang se-agama!”

“Aneh!”

“Memang aneh.”

“Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”

“Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”

“Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati.

“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”

“Apa peduliku dengan nabi palsu!”

“Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”

“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad.

“Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis, disambut tertawa riuh rendah.

Nabi tengadah ke atas.

“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”

Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.

Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:

“Amien, amien, amien.”

Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.

“Naiklah, mari kita berangkat ya Rasulullah!”

Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.

Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa, pusing-pusing dan muntah-muntah.

Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip.

Kata orang, sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen Naspro mati kutu. Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang.

Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu, tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem.

Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR.

“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin mati orang apa tidak?”

“Tidak, Pak.”

“Jadi tidak berbahaya?”

“Tidak Pak. Komunis yang berbahaya, Pak!”

“Akh, kamu. Komunisto-phobi, ya!”

Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menteri-sampai presiden diterjang semena-mena.

Pelayan-pelayan istana geger, menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.

Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking.

“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, Pemimpin Besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”

Kawan Mao di singgasananya tcrsenyum-senyum, dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.

“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.”

Terhampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao. (Tidak lupa, pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit).

Rupanya berkat khasiat obat kuat, si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao.

Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.

“Saudara-saudara. Pers nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (Hadirin tertawa. Menertawakan kebodohan nekolim). Wah, saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negaranya Tengku.

“Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya, saudara-saudara, Soekarno tetap segar-bugar. Soekarno belum mau mati. (Tepuk tangan gegup gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim ‘Malaysia’ hancur lebur jadi debu. (Tepuk tangan lagi).”

Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.

Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.

Dokter pribadinya berbisik.

“Tak apa. Baik buat ginjalnya, biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.”

“Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek.

“Baik, baik. Tapi kalian mengiringi, ya!” Bergaya burung unta.

Siapa bilang Bapak dari Blitar

Bapak ini dari Prambanan

Siapa bilang rakyat-

Malaysia yang kelaparan …!

“Mari kita bergembira….” Nada-nada sumbang bau champagne.

Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri.

“Gembira sekali nampaknya dia.”

“Itu tandanya hampir mati.”

“Mati?”

“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”

“Tapi kami belum siap.”

“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”

“Tunggu saja tanggal mainnya!”

“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)

Mereka berpisah.

Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam ‘Kembang Kacang’ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.

“Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.

Kemudian tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas; beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.

Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.

Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.

Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!

Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.

Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas.

“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Jibril sambil mengepakkan sayap.

“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku,” mendengus kesal.

“Apa benar yang paduka risaukan?”

“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!”

“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”

“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”

“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”

“Buat apa?”

“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”

“Tapi tetap di luar manusia?”

“Ya, untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”

“Aku tahu!”

“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”

“Akh, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu Jibril. Mari kita keliling lagi. Betapapun durhaka, kota ini mulai kucintai.”

Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.

Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.

Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.

Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.

Di kamar lain, bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu.

Hansip repot-repot …

“Apa yang Paduka renungi.”

“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggeleng-gelengkan kepala.

“Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.

“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina, laangkah kotor bangsa ini. Batu, mana batu!!”

“Batu-batu mahal di sini. Satu kubik 200 rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”

“Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!”

“Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan, Paduka lihat?”

“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak.

“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”

“Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?”

“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :

Pelacur-pelacur kota Jakarta

Naikkan tarifmu dua kali

dan mereka akan kelabakan

mogoklah satu bulan

dan mereka akan puyeng

lalu mereka akan berzina

dengan istri saudaranya

“Penyair gila! Cabul!”

“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja.

Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana.

Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.

“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”

“Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik.

“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”

“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”

“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”

“Toh, bisa diimpor!”

“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”

“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”

“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”

“Negara kapir itu?”

“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”

“Sama jahat keduanya pasti!”

“Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.”

“Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh.

“Ya, dunia sudah tua!”

“Padahal Kiamat masih lama.”

“Masih banyak waktu ya, Nabi!”

“Banyak waktu untuk apa?”

“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”

“Betul, betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”

Kedua elang terbang di gelap malam.

“Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.”

“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”

Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.

“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”

“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”

“Sebetulnya siapa menurut kamu?”

“Dia hanya Togog. Begundal raja-raja angkara murka.”

“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”

“Dokumen.”

“Dokumen?”

“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”

“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”

“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”

“Ooh.”

Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.

Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.

“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengaman Baginda Raja.”

Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.

“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”

Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda Tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya.

Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!

“Apa kabar Yang Mulia Togog?”

“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”

“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?”

“Baik, baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan.

“Nah, kan begitu. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”

“Betul, Pak, eh, Yang Mulia.”

“Jadi kapan selesai?”

“Seminggu lagi, pasti beres.”

“Kenapa begitu lama?”

“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”

“Bagus, kau rajin meng-up-grade otak. Soalnya begini, saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. Gimana?”

“Besok juga bisa, asal uang lembur…,” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jari-jarinya.

Togog meluruskan seragam-dewannya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.

“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”

“Siapa mereka?”

“Siapa lagi? Natuurlijk de— ‘our local army friends’. Jelas toh?”

Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.

Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.

“Soekarno hampir mati lumpuh, jenderal kapir mau coup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”

***

Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.

Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.

Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.

“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” PBR marah-marah.

“Akh, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya, jimat tulen.”

“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”

“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang, siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”

“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”

“Lebih dari itu, jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”

“Apa katanya?”

“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid…!”

“Akh, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –. Dia tidak berbahaya lagi.

“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”

“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA dicampuradukkan!”

“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”

“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”

“Kenapa begitu?”

“Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”

“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas.

“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “

Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran.

Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Tiba-tiba PBR naik pitam.

“Togog, panggil Duta Cina kemari. Sekarang!”

“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”

Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia cuma pakai piyama, mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi.

“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya.

“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti tuh?”

“Buat apa bom atom, sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking, “tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Akh, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”

“Gimana ini, Togog?”

“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini,” Togog mendongkol.

“Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak.

“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk). Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!”

“Kami tidak memaksa, Bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”

“Tidak mungkin!” PBR meradang, betul or tidak, Gog?”

“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”

“Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.

“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” Menggertak.

“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”

“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”

“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”

PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkul-rangkulan.

“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”

“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”

“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”

“Maaf PYM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC.”

“Yani ragu-ragu?”

“Begitulah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”

“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”

“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”

“Bagaimana itu?”

“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”

Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.

Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus, penjual obat pinggir jalan, ia berpidato. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.

“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.

“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”

Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.

Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.

Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.

Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.

“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”

“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”

“Pak Yani, tentu.”

“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”

“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” Suara sember.

“Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”

“Dia nggak takut mati?”

“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi.

Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.

Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.

“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang, jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong.

Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya tekstil, korek api, senter, sandal, pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.

Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras.

“Padahal saudara-saudara. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot, dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”

“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering). Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”

Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan sekalian potretnya.

Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.

Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.

Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi.